Sang Buddha bersabda : " Di antara semua jalan, maka ` Delapan Ruas Jalan Kemuliaan ' adalah yang terbaik. Di antara semua kesunyataan, maka ` Empat Kesunyataan Mulia ' adalah yang terbaik. Di antara semua keadaan, maka keadaan tanpa nafsu adalah yang terbaik; dan di antara semua makhluk hidup, maka orang yang `melihat' adalah yang terbaik." (Dhammapada, 273).

Seperti seorang dokter yang berpengalaman, Sang Buddha mengenali dulu penyakit penderitaan tersebut. Beliau kemudian mengidentifikasikan penyebabnya dan menentukan penyembuhannya. Untuk kemudian guna kepentingan umat manusia, Beliau meracik penemuannya tersebut dalam suatu rumusan yang sistimatis, dimana dapat dengan mudah diikuti oleh umat manusia guna melenyapkan penderitaan . Rumusan tersebut mencakup pengobatan fisik dan mental, dimana salah satunya disebut Delapan Ruas Jalan Kemuliaan.

Delapan Ruas Jalan Kemuliaan yang ditemukan oleh Sang Buddha adalah salah satu jalan untuk melenyapkan penderitaan dan menuju Nirvana. Jalan ini menghindari penyiksaan diri yang berlebihan yang mana dapat melemahkan intelektual seseorang dan pemanjaan diri berlebihan yang dapat menghambat kemajuan spiritual seseorang. Delapan Ruas Jalan Kemuliaan tersebut terdiri dari Pandangan Benar, Pikiran Benar, Perkataan Benar, Perbuatan Benar, Mata Pencaharian Benar, Usaha Benar, Kesadaran Benar dan Konsentrasi Benar.

1. Pandangan Benar
Pandangan Benar merupakan pengetahuan mengenai Empat Kebenaran Mulia. Dengan kata lain berusaha memahami diri sendiri sebagaimana adanya. Kata kunci dalam paham Buddhisme adalah Pandangan Benar. Ajaran Sang Buddha pada umumnya adalah berdasarkan pengetahuan dan bukan berdasarkan suatu kepercayaan yang tidak beralasan.

Pandangan Benar sangat penting dan merupakan hal utama yang harus kita pelajari terlebih dahulu, sebelum mempelajari lebih lanjut Ajaran Sang Buddha. Seperti proses tahapan dalam sekolah, maka Pandangan Benar dapat disebut kelas SD, kemudian berlanjut kepada Hukum Sebab Akibat yang dapat disebut SLTP, lalu pengertian Sunyata (Kekosongan) yang dapat digolongkan tahap lanjutan atas atau SLTA, kemudian baru pengembangan Prajna (Kebijaksanaan) yang dapat dikategorikan sebagai sarjana lengkap.

Terdapat tiga Pandangan Utama yang harus diperhatikan agar kita selalu berada dalam jalur Pandangan Benar, yaitu :

Pandangan benar terhadap karma dimana semua makhluk adalah pemilik karmanya sendiri, lahir dari karmanya sendiri, dan ahli waris karmanya sendiri.

Pandangan benar terhadap sepuluh persoalan, yaitu :
Kebajikan tinggi dalam berdana
Kebajikan dalam pemberian yang banyak
Kebajikan dalam pemberian yang sedikit
Akibat dari perbuatan yang buruk dan baik
Kebajikan perbuatan terhadap ibu
Kebajikan perbuatan terhadap ayah
Adanya makhluk yang lahir secara spontan
Adanya dunia ini
Adanya dunia dan alam kehidupan yang lain
Adanya makhluk hidup yang melakukan latihan yang benar dan memiliki pencapaian yang benar yang dengan usahanya sendiri dalam berbagai kehidupan dan kemudian mengajarkan Kebenaran kepada makhluk lainnya.

Pandangan benar terhadap Empat Kebenaran Mulia.
Pandangan benar dalam kenyataan kehidupan modern saat ini juga mencakup mengenai berbagai pengetahuan yang semestinya kita sadari, sehingga dapat membuka wawasan kita terhadap berbagai hal yang terjadi di sekeliling kita.

Katak Dalam Sumur
Ada seekor katak yang seumur hidup tinggal di suatu sumur. Katak tersebut sangat menyenangi kehidupannya di lingkungan sumur tersebut. Kalau siang hari yang panas dia berendam di kedalaman sumur, dan di malam hari dia loncat ke luar sumur, bermain di sekeliling pinggiran sumur. Sampai suatu hari datanglah seekor kura-kura dari lautan. Katak tersebut dengan bangganya menceritakan bagaimana senangnya dia menjalani kehidupannya di dalam sumur, dan menawarkan kura-kura tersebut untuk tinggal di dalamnya.

Kura-kura yang melihat kecilnya sumur tersebut tentu saja menolak, dan mengatakan bahwa dia senang tinggal di luar sumur, karena dapat menyelami berbagai lautan dengan berbagai corak kehidupannya. Sang kura-kura menceritakan berbagai hal-hal menarik di luar sumur yang belum pernah dialami oleh sang katak. Namun semua cerita kura-kura tersebut dianggap sebagai dongeng yang tidak masuk akal saja. Sehingga sang katak tidak peduli akan kehidupan di luar sumur, dan tetap memilih tinggal di sumur kecil kebanggaannya.

Demikian juga sering terjadi dalam kehidupan ini yang tanpa disadari telah menarik garis-garis pemisah yang menciptakan kotak yang menutup diri kita sendiri. Memang kehidupan sang katak akan menyenangkan buat katak itu sendiri, tetapi dengan menceritakan kebahagiaan hidup di sumur kepada seekor kura-kura yang biasa hidup di lautan luas, akanlah tidak ada artinya. Demikian juga sebaliknya bagi seekor kura-kura yang menikmati kebahagian hidup di laut, menceritakan kehidupan tersebut kepada seekor katak di sumur juga sia-sia adanya. Kita sering terkotak oleh pengetahuan terbatas yang kita yakini. Buddhadharma tidaklah terbatas, sebagaimana dicontohkan oleh Sang Buddha dengan segenggam daun ditanganNya dibandingkan dengan daun-daun yang ada di seluruh hutan. Bagaimana dapat melampaui pengetahuan yang tertulis, itulah yang penting untuk kita raih dalam kehidupan kali ini. Tentunya dengan suatu Pandangan Benar, maka segala pengetahuan akan dapat kita alami juga pada akhirnya.

2. Pikiran Benar
Pikiran Benar dapat dibagi atas tiga ruas pengertian, yaitu :
- Pikiran yang tanpa keserakahan [lobha], kebencian [dosa] dan kebodohan batin [moha]
- Pikiran yang berisi cinta kasih [metta]
- Pikiran yang berisi kasih sayang [karuna]

Keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin adalah halangan utama atau tiga racun dunia bagi kita dalam menuju Pencerahan. Kita harus senantiasa berusaha untuk memelihara pikiran benar, agar bisa mengatasi tiga racun dunia tersebut, sehingga memasuki Jalan KeBuddhaan.

Pikiran merupakan hal yang sangat mempengaruhi dalam usaha kita memperoleh Pencerahan. Pikiran yang tidak dapat diatasi akan merupakan halangan sehingga dapat menimbulkan sifat kebencian kepada orang lain tanpa ada dasar sama sekali.

Mahabhikshu Menggendong Wanita Cantik
Dalam perjalanan menuju kembali ke vihara, seorang Mahabhikshu Zen bersama muridnya seorang bhikshu muda tiba di tepian sungai yang deras. Pada saat itu seorang wanita muda cantik dengan pakaian jaman dulu (panjang sampai ke tumit) berdiri kebingungan di tepian sungai. Melihat Mahabhikshu dan bhikshu muda yang bermaksud menyeberang tersebut, maka wanita muda ini meminta tolong untuk diseberangkan. Dengan spontan Mahabhikshu menawarkan kesediaannya untuk membantu, dan secara sigap mengendong wanita muda tersebut ke seberang. Bhikshu muda yang ikut menyeberang hanya bisa terpelongo menyaksikan pemandangan tersebut yang menurut pikiran dia sangatlah tidak pantas dilakukan oleh gurunya.

Namun sebagai seorang murid yang setia, maka bhikshu muda ini mengurungkan niatnya untuk menegur gurunya. Setelah tiga malam tidak bisa tidur karena selalu memikirkan tingkah laku gurunya tersebut, dimana sampai timbul kebencian yang sangat besar terhadap gurunya. Maka akhirnya bhikshu muda ini memutuskan untuk bertanya kepada gurunya, dimana apabila tidak diperoleh jawaban yang memuaskan maka dia akan berhenti menjadi muridnya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali dengan mata yang masih kuyuh, bhikshu muda tersebut menemui gurunya yang sedang duduk minum teh. Mahabhikshu agak kaget juga melihat kemunculan muridnya yang tidak biasanya tersebut. Sesampainya bhikshu muda ini, langsung dia menanyakan, "Guru, ini ada pikiran yang menganggu saya dan sampai saat ini masih belum dapat saya peroleh jawabannya. Untuk itu harap guru mau memberikan penjelasan. Kenapa guru tiga hari yang lalu menggendong wanita muda cantik menyeberang sungai tanpa merasa risih, padahal itukan tidak sopan sama sekali?"

Mahabhikshu tersebut sempat bingung dan tidak mengerti apa yang dimaksud karena kejadian tersebut sudah tidak diingatnya lagi. Setelah dijelaskan lebih detail, dan sesudah Mahabhikshu mengerti duduk persoalannya, maka diapun tertawa sambil berkata, "Ha...ha...ha..., muridku yang malang, guru hanyalah mengendongnya untuk membantu dia menyeberangi sungai yang deras tersebut , tetapi Anda sungguh malang sekali, malah mengendongnya dari tiga hari yang lalu sampai sekarang!"

3. Perkataan Benar
Perkataan Benar berarti tidak dibenarkan untuk mengatakan sesuatu yang tidak benar, memfitnah, mencaci-maki, mengucapkan kata-kata kasar dan kotor. Pepatah umum mengatakan, bahwa " Kuman memasuki tubuh kita melalui mulut; bencana muncul melalui mulut juga."

Pemuda Yang Kehilangan Domba
Yongmae, seorang pemuda yang menggembala domba. Pemuda ini memang terkenal iseng dan suka membuat onar dengan menceritakan hal-hal yang adakalanya tidak masuk di akal sama sekali. Pada hari pertama menggembala domba, terbetik dalam pikirannya untuk membuat onar penduduk kampungnya, maka menjelang tengah hari dengan tergopoh-gopoh dia berlari turun gunung memasuki kampungnya dengan berseru, "Tolong....tolong......., ada gerombolan serigala yang memangsa domba-dombaku." Mendengar teriakan yang histeris tersebut, maka cukup banyak penduduk yang keluar dengan membawa berbagai perkakas dan berlari ke gunung bermaksud membantu Yongmae mengusir gerombolan serigala tersebut. Sesampainya di gunung, terlihat domba-domba dengan tenang masih merumput, dan menyaksikan ekspresi tersebut, Yongmae melepaskan ketawanya dengan berguling-guling di rumput saking senangnya berhasil membohongi hampir seluruh penduduk kampungnya.

Beberapa minggu kemudian, Yongmae mengulangi kembali aksinya yang dimana juga berhasil mengelabui penduduk kampungnya. Sampai suatu hari pada saat sedang menggembala, terlihatlah dengan mata kepala dia sendiri, serombongan serigala rakus muncul dari semak-semak. Dengan pucat pasi, Yongmae berlari seperti dikejar setan ke kampungnya. Sampai suaranya habis berteriak untuk meminta bantuan, tetapi penduduk kampung yang merasa sudah kapok diberlakukan oleh Yongme, tidak mempercayainya dan hanya menebis dengan mengatakan, "Yongmae...Yongmae ...mau aksi apalagi sih..., kami tak mungkin dapat Anda kelabui tiga kali. Sudah sana kembali." Akhirnya Yongmae sambil menangis kembali ke gerombolan dombanya dan menemukan hampir sebagian besar domba gembalaanya telah menjadi santapan gerombolan serigala kelaparan tersebut.

4. Perbuatan Benar

Perbuatan Benar adalah tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berjinah, dan tidak bermabuk-mabukan. Disamping tindakan pasif untuk menjauhi perbuatan jahat, kita juga seharusnya secara aktif melakukan perbuatan baik. Dengan melakukan perbuatan baik akan mengembangkan karakter seseorang, yaitu pengendalian diri dan kesadaran akan hak orang lain.

Perbuatan menghargai makhluk hidup sekecil apapun akan menghasilkan buah karma yang baik, bukan karena kebaikan makhluk itu untuk membalas kita, tetapi karena kebaikan hati nurani kita sendiri yang sanggup menimbulkan kasih yang setulusnya.

Murid Yang Menolong Semut
Guru Hui-gan yang memiliki waskita mata surgawi [divyacakshu/dibbacakkhu] merasa sedih sekali pada suatu hari karena mengetahui bahwa muridnya, Li-chang yang baru berusia 19 tahun harus meninggal satu bulan lagi karena karma buruk masa lalu yang dibuatnya. Beliau tidak menceritakan hasil penglihatannya tersebut agar tidak membuat Li-chang bersedih, melainkan menasehatkan muridnya untuk pulang ke rumah orangtuanya, berkumpul selama 40 hari dengan alasan sudah lama sekali tidak menjenguk orangtuanya. Dengan demikian diharapkan, Li-chang dapat menghabiskan hari-hari terakhirnya bersama orangtuanya.

Li-chang mematuhi dan melakukan perjalanan menembus hutan yang memakan waktu cukup lama juga. Di tengah perjalanan, Li-chang menemukan satu koloni (berjumlah jutaan) semut terperangkap dalam genangan air dan berada di tengah-tengah batu yang dikelilingi oleh air banjir. Li-chang dengan sigap dan spontan mencari dahan kayu yang banyak dan dibuatkan sebagai jembatan, sehingga seluruh semut berikut telur-telur semut yang belum menetas dapat diseberangkan ke tempat yang kering oleh para semut pekerja. Sesudahnya, dia melanjutkan perjalanan lagi pulang ke rumah orangtuanya.

Setelah melewati masa 40 hari sebagaimana ijin yang diperolehnya dari gurunya, Li-chang kemudian muncul di hadapan gurunya yang terkejut melihat kedatangannya tanpa kekurangan apapun. Guru Hui-gan mencoba melihat kembali dengan mata surgawinya dan mendapatkan bahwa muridnya akan hidup sampai umur 91 tahun. Guru Hui-gan menanyakan apa yang telah dilakukannya selama perjalanan dan juga menjelaskan hasil waskitanya. Li-chang hanya bisa menjawab tidak melakukan apa-apa. Guru Hui-gan mencoba melihat perjalanan muridnya ini, dan kemudian menjadi maklum bahwa muridnya telah menolong jutaan makhluk hidup dengan tulus dan penuh kasih sehingga menggetarkan para Bodhisattva yang diliputi Kasih Sayang , dimana secara tidak langsung telah memperpanjang usianya. Guru Hui-gan berucap terima kasih kepada Bodhisattva.

5. Mata Pencaharian Benar
Mata Pencaharian Benar berkaitan dengan adanya lima jenis perdagangan yang harus dihindarkan [micchavanijja/mithayavanijya] karena dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, yaitu:
(1) berdagang senjata yang mematikan [sattha-vanijja/sastra-vanijya]
(2) berdagang makhluk hidup [satta-vanijja/sattva-vanijya]
(3) berdagang daging [mamsa-vanijja/mamsa vanijya]
(4) berdagang minuman memabukkan [majja-vanijja/madya-vanijya]
(5) berdagang racun [visa-vanijja/visa vanijya]

Sering kita membaca di koran mengenai berbagai tindak peperangan yang menyebabkan musnahnya penduduk suatu kota hanya karena penggunaan senjata yang mematikan. Perdagangan makhuk hidup termasuk manusia telah menyebabkan berbagai penderitaan, belum lagi berbagai penyakit yang mudah menyerang hewan peliharaan seperti kasus sapi gila di Eropa, kasus virus burung di Hong Kong, dan kasus flu babi di Malaysia, dimana semuanya itu menimbulkan kerugian yang cukup besar hanya untuk mencegah bertambahnya korban manusia, dengan jalan mematikan secara masal hewan peliharaan tersebut, mulai dari pemberian gas beracun, dipukul, dikubur hidup-hidup, dibakar hidup-hidup dan berbagai pembasmian kejam lainnya. Kasus-kasus tersebut juga menyebabkan banyak pedagang daging terpaksa gulung tikar karena tidak terdapatnya pasokan daging, dan berkurangnya niat pembeli yang takut terjangkit virus hewan peliharaan tersebut.

Berbagai kejahatan sudah sering kita dengar yang ditimbulkan oleh karena seseorang itu sedang mabuk minuman keras ataupun habis menegak pil, ganja, morfin yang membuat kesadaran seseorang itu menjadi rendah seperti binatang. Demikian juga berbagai kasus bunuh diri dengan meminum racun ataupun kasus kematian korban yang diracuni sering juga terpampang dalam berbagai koran harian .

6. Usaha Benar
Usaha Benar adalah suatu usaha yang dilakukan terus menerus untuk membersihkan diri dan mengembangkan kebaikan, dimana terdapat empat ruas, yaitu :
(1) untuk kejahatan yang tidak muncul, biarlah tidak muncul.
(2) untuk kejahatan yang muncul,biarlah lenyap.
(3) untuk kebaikan yang tidak muncul, biarlah muncul.
(4) untuk kebaikan yang muncul, biarlah berlanjut.

Penyesalan sering datang terlambat sesudah kita menyadari perbuatan yang tidak seharusnya kita lakukan. Tidak ada penyesalan yang timbul sebelum perbuatan itu dilakukan. Manusia memang lemah karena tertutup oleh berbagai kebodohan yang tanpa disadarinya akan menyeretnya ke ruang penderitaan yang tidak akan habis disesalinya.

Kasep Penjaga Kereta
Kasep, seorang penjaga rel kereta api sudah lama melakukan tugasnya dan sangat disukai orang karena sikapnya yang ramah dan sopan. Namun ada satu sifat jelek Kasep yang sulit dihilangkannya, yaitu sering meminum arak untuk menghangatkan tubuhnya pada malam yang dingin. Apabila ada orang yang menegurnya, maka dia akan bilang bahwa dia tetap masih sadar dan tidak perlu khawatir.

Pada suatu malam, hujan turun dengan lebatnya, dan kereta api agak terlambat dari jadwalnya. Untuk menghilangkan kekesalannya menunggu, Kasep mulai mengeluarkan botol araknya sampai, tanpa disadarinya, telah hampir dihabiskannya setengah botol minuman arak tersebut. Walaupun telah ditegur oleh Kepala Peron , tapi Kasep tetap meyakinkan bahwa dia masih sadar dan tidak perlu khawatir.

Tiba-tiba muncullah suara kereta api dari dua arah yang berlawanan, rel harus segera diarahkan. Kepala peron dengan panik segera menuju arah belakang untuk menutup palang kendaraan umum agar tidak melewati jalur kereta api, dan meminta Kasep untuk melakukan tugasnya mengarahkan rel yang di depan. Kasep sambil tertawa berkata, "Tenang saja Pak, tidak perlu tergopoh-gopoh." Kepala Peron menegaskan kembali agar segera memperhatikan pekerjaannya, dan akhirnya dengan perlahan Kasep mulai bangkit dan menuju tempatnya bekerja.

Kepala Peron dengan cepat berlari ke arah belakang, sedangkan Kasep masih tenang berjalan dan bermaksud meneguk lagi seteguk arak untuk menghangatkan badannya sambil kemudian mengenakan jas hujannya. Dengan santai dia memegang lampu petromak dan berjalan menyusuri rel kereta, namun baru melangkah tiba-tiba terdengar suara pluit kedatangan kereta api. Kasep mulai tergopoh-gopoh berlari ke depan dengan sekuat tenaga, namun semuanya sudah terlambat. Kedua kereta api tersebut saling menghantam gerbong masing-masing seperti dua naga yang sedang bertarung. Berbagai jeritan dan isakan penumpang terdengar histeris bercampur benturan suara keras yang memekakkan telinga.

Sesudah bencana tersebut berakhir, Kasep tidak berhasil ditemukan. Tetapi pada malam berikutnya, orang-orang melihat Kasep duduk di pinggiran kereta api sambil memegang petromak dalam keadaan tidak sadar, sambil melambaikan petromaknya dan berteriak, "Kenapa tidak saya lakukan,.....kenapa tidak saya lakukan, ......kenapa..................."

7. Kesadaran Benar
Kesadaran Benar adalah suatu kesadaran yang ditujukan kepada diri kita sendiri dengan menyadarinya sebagai suatu proses kehidupan yang selalu tidak kekal adanya, dimana terdapat empat dasar kesadaran pokok, yaitu :
(1) tubuh kita kotor dan tidak murni
(2) seluruh perasaan akan selalu mengakibatkan penderitaan
(3) pikiran itu tidak kekal
(4) segala sesuatu bergantung pada yang lain dan tidak memiliki suatu inti yang kekal

Adakalanya kita berpikir bahwa tubuh kita ini sehat, kita bebas berbuat apa saja dan tidak tergantung satu sama lain. Tetapi di lain waktu pada saat tubuh kita sakit, kita akan mencela tubuh ini yang tidak berguna dimana harus tergantung orang lain. Kita sering tidak sadar dan menyalahkan sekeliling kita yang tidak benar, jarang seseorang itu mau bercermin diri melihat kesalahan dan kelemahan sendiri.

Tas Berisi Kotoran
Dalam suatu persamuan yang diketuai oleh seorang Mahabhikshu, tibalah sesi untuk menyampaikan segala permasalahan yang dihadapi oleh para bhikshu. Seorang bhikshu muda yang bernama Dasa, terkenal sering pindah-pindah vihara karena berbagai alasan, dan kali inipun dia sudah siap dengan permasalahannya untuk menyampaikan kepada Mahabhikshu tersebut, bahwa dia bermaksud pindah ke vihara lain dengan berbagai alasan yang telah dipersiapkannya.

Mahabhikshu tersebut mengetahui muridnya ini, maka permintaan tersebut dikabulkan saja. Begitu bhikshu Dasa mempersiapkan diri dan mengambil tasnya siap untuk memohon ijin berangkat, maka tiba-tiba Mahabhikshu berseru, "Bhikshu Dasa selalu membawa tas yang isinya penuh dengan tai anjing, karenanya selalu mengeluh sekelilingnya bau tai anjing!" Bhikshu Dasa seketika itu juga sadar akan ucapan Mahabhikshu tersebut dan mencapai pencerahan. Diapun membatalkan niatnya untuk pindah vihara dan terus menetap di vihara tersebut.

8. Konsentrasi Benar
Konsentrasi Benar berarti meditasi dengan cara pemusatan pikiran. Meditasi berarti suatu proses latihan yang terus menerus dengan mengfokuskan suatu objek utama secara tetap tanpa tergoyahkan. Praktek meditasi yang terus-menerus akan membantu kita dalam mengembangkan konsentrasi pikiran memperoleh Kebijaksanaan dan Pencerahan.

Pikiran adalah sukar dikendalikan, sering sebelum kita duduk menjalani meditasi, kita berikrar untuk tidak memikirkan hal-hal lainnya. Namun pada kenyataannya, pikiran sering terusik untuk ikut bereaksi terhadap berbagai hal yang muncul pada saat kita sedang meditasi.

Meditasi Tanpa Suara
Suatu hari terdapatlah lima orang pemuda yang bermaksud mengadakan retreat selama tujuh hari dengan meditasi di hutan. Selama retreat berlangsung, maka ada satu pantangan yang harus dipatuhi, yaitu dilarang berbicara antar sesama dan konsentrasi hanya pada nafas. Alhasil, masing-masing menggunakan bahasa isyarat tarzan, dimana sepanjang siang hari pertama, dapat dilalui dengan berhasil tanpa satu patah kata yang keluar dari kelima pemuda tersebut.

Kemudian pada malam harinya, maka masing-masing sudah siap untuk masuk ke gubug tempat mereka tidur yang hanya diterangi satu-satunya api lilin. Menjelang tengah malam, bertiuplah angin yang kencang sehingga memadamkan api lilin tersebut, dan mulailah timbul kegelisahan di antara mereka. Setelah sekian lama dalam keadaan gelap-gulita, maka mulailah pemuda pertama berbisik pada teman di sebelahnya,"Kelihatannya api lilin itu padam!" Pemuda kedua menyahut sambil berbisik pula, "Iya..., sebaiknya ada yang menyalahkannya." Pemuda ketiga menimpali dan mengingatkan akan janji mereka, "Hei...bukankah kita sepakat untuk tidak berbicara?" Pemuda keempat mengiyakan, "Iya nih,.... koq jadi pada berisik sih..." , dan mereka berempatpun baru mulai menyadari hanya ada satu orang yang berhasil tidak berbicara sama sekali, tetapi belum sampai sedetik kemudian, pemuda kelimapun mulai berseru dan yang paling nyaring, "Ha..ha..ha..., lihatlah hanya saya yang paling hebat karena tidak berbicara sama sekali!"

Sumber : http://www.nshi.org/Buddhisme/Indonesia%20Buddhisme/Delapan-Jalan-Kemuliaan.htm